Lewati ke konten
Situs informasi independen dan bukan situs resmi pemerintah.

Terapi Plasma Konvalesen untuk COVID-19: Sempat Jadi Harapan, Kini Penggunaannya Lebih Terbatas

0 0
Read Time:2 Minute, 44 Second

JAKARTATerapi plasma konvalesen COVID-19 pernah menjadi salah satu pendekatan yang mendapat perhatian besar selama masa pandemi. Terapi ini menggunakan plasma darah dari seseorang yang telah pulih dari COVID-19 dan memiliki antibodi terhadap SARS-CoV-2.

Pada awal pandemi, para peneliti berharap antibodi tersebut dapat membantu tubuh pasien melawan virus. Oleh karena itu, berbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui keamanan dan efektivitas terapi plasma konvalesen.

Namun, perkembangan bukti ilmiah kemudian menunjukkan hasil yang lebih kompleks. Plasma konvalesen tidak terbukti memberikan manfaat yang cukup untuk digunakan sebagai terapi rutin bagi seluruh pasien COVID-19.

Apa Itu Terapi Plasma Konvalesen?

Plasma merupakan bagian cair dari darah yang membawa berbagai komponen, termasuk antibodi.

Seseorang yang pulih dari infeksi COVID-19 dapat memiliki antibodi terhadap SARS-CoV-2 dalam plasmanya. Konsep terapi plasma konvalesen adalah memberikan plasma yang mengandung antibodi tersebut kepada pasien lain.

Dengan demikian, pasien memperoleh antibodi dari luar tubuh.

Pada masa awal pandemi, pendekatan tersebut dianggap menjanjikan karena pilihan pengobatan COVID-19 masih sangat terbatas. Namun, manfaat suatu terapi tetap harus dibuktikan melalui penelitian klinis.

Penelitian Mengubah Pandangan terhadap Plasma Konvalesen

Seiring bertambahnya penelitian, bukti mengenai manfaat terapi plasma konvalesen COVID-19 semakin jelas.

WHO menyatakan bahwa bukti penelitian tidak menunjukkan manfaat penting terhadap angka kematian pada pasien COVID-19 non-berat. Terapi ini juga tidak memberikan dampak penting terhadap kebutuhan ventilasi mekanis.

Sementara itu, untuk pasien COVID-19 berat atau kritis, WHO merekomendasikan agar plasma konvalesen tidak digunakan di luar konteks uji klinis.

Artinya, plasma konvalesen tidak lagi tepat disebut sebagai terapi harapan yang berlaku secara umum bagi seluruh pasien COVID-19.

Masih Diteliti untuk Kelompok Pasien Tertentu

Meski penggunaannya semakin terbatas, plasma konvalesen belum sepenuhnya hilang dari dunia medis.

Di Amerika Serikat, misalnya, FDA mencatat adanya produk plasma konvalesen COVID-19 berantibodi tinggi yang memiliki indikasi untuk pasien dengan penyakit imunosupresif atau pasien yang menerima terapi imunosupresif.

FDA juga mencatat bahwa Emergency Use Authorization (EUA) plasma konvalesen COVID-19 yang sebelumnya digunakan telah dicabut pada 27 Agustus 2025 atas permintaan pemegang EUA. Namun, tersedia produk plasma konvalesen berlisensi untuk kelompok pasien imunosupresif tertentu.

Hal ini menunjukkan bahwa penggunaannya kini jauh lebih spesifik.

Tidak Bisa Dilakukan Sembarangan

Plasma konvalesen merupakan produk darah. Oleh sebab itu, penggunaannya membutuhkan prosedur medis yang ketat.

Tenaga medis harus mempertimbangkan kondisi pasien, kualitas plasma, kadar antibodi, serta risiko yang dapat muncul akibat transfusi.

WHO juga mencatat adanya sejumlah persoalan praktis. Di antaranya adalah pemilihan donor, pemeriksaan kadar antibodi, pengumpulan plasma, penyimpanan, distribusi hingga proses transfusi.

Selain itu, seperti produk darah lainnya, transfusi memiliki potensi menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan.

Karena itu, keputusan penggunaan plasma konvalesen harus dilakukan oleh tenaga medis berdasarkan kondisi pasien dan pedoman klinis yang berlaku.

Perjalanan Plasma Konvalesen Jadi Pelajaran Penting

Perjalanan terapi ini menunjukkan bagaimana rekomendasi medis dapat berubah ketika bukti ilmiah baru tersedia.

Pada awal pandemi, terapi plasma konvalesen COVID-19 menjadi harapan karena pilihan pengobatan masih terbatas. Akan tetapi, penelitian berskala besar kemudian membantu tenaga kesehatan memahami manfaat dan keterbatasannya.

WHO masih menyediakan pedoman terapi COVID-19 yang diperbarui berdasarkan perkembangan bukti ilmiah. Versi living guideline terbaru juga diterbitkan pada 2025.

Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menggunakan informasi pengobatan dari masa awal pandemi sebagai acuan terapi saat ini. Penanganan COVID-19 perlu mengikuti rekomendasi medis terbaru dan disesuaikan dengan kondisi setiap pasien.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Disclaimer kesehatan: Informasi pada situs ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran langsung dari tenaga kesehatan.